Nikah

Hukum Berhubungan Dengan Istri Yang Sedang Dalam Masa Iddah Talak Raj'i

Pertanyaan:

Apa hukum suami bersenang-senag dengan istri yang ditalak raj'i?

Jawaban:

Syaikh Labib Najib menjawab:

Menurut mazhab Syafi‘i:

  • Suami haram bersenang-senang dengan istri yang sedang menjalani idah talak raj‘i, meskipun hanya dengan memandangnya.

  • Apabila suami menyetubuhinya, maka:

    1. Ia berdosa.

    2. Ia dikenai ta‘zir apabila meyakini bahwa perbuatan tersebut haram. Berbeda halnya jika ia tidak mengetahui keharamannya atau tidak meyakini keharamannya.

    3. Suami wajib membayar mahar mitsil kepada istri, baik ia merujuknya maupun tidak.

Dalam kitab ad-Dibaj Syarh al-Minhaj (3/485) disebutkan:

(ويحرم الاستمتاع بها، أي: الرجعية ولو بمجرد النظر؛ لأنّ النكاح يبيحه فيحرّمُه الطلاق؛ لأنه ضده، فإن وطئ فلا حدَّ، وإن اعتقد حرمته؛ لشهرة الخلاف في إباحته، وحصول الرجعة به عند بعض العلماء، ولا يعزر إلا معتقد تحريمه دون معتقد حله والجاهل بتحريمه حيث عُذِرَ؛ وذلك لإقدامه على معصية عنده .. ويجب لها عليه بوطئه مهر مثل إن لم يراجع للشبهة، ولا يتكرر بتكرر الوطء؛ لاتحاد الشبهة، وكذا يجب لها إن راجع على المذهب؛ لأن الرجعة لا ترفع أثر الطلاق) انتهى.

“Diharamkan bagi suami bersenang-senang dengannya, yakni istri yang ditalak raj‘i, meskipun hanya dengan memandangnya. Sebab, akad nikah menjadikan hal tersebut boleh, sedangkan talak mengharamkannya karena talak merupakan kebalikan dari pernikahan.

Apabila suami menyetubuhinya, ia tidak dikenai hukuman had, meskipun meyakini keharamannya. Hal ini karena adanya perbedaan pendapat yang masyhur mengenai kebolehannya, serta karena hubungan badan tersebut dianggap sebagai rujuk menurut sebagian ulama.

Suami hanya dikenai ta‘zir apabila meyakini keharamannya. Adapun orang yang meyakini kebolehannya dan orang yang tidak mengetahui keharamannya—dalam kondisi ketidaktahuannya dapat ditoleransi—tidak dikenai ta‘zir. Sebab, hukuman ta‘zir tersebut diberikan karena ia melakukan perbuatan maksiat menurut keyakinannya.

Suami wajib membayar mahar mitsil kepada istri akibat hubungan badan tersebut apabila ia tidak merujuknya, karena adanya syubhat. Kewajiban mahar ini tidak berulang meskipun hubungan badan dilakukan berkali-kali, sebab syubhatnya tetap satu.

Demikian pula, mahar mitsil tetap wajib dibayarkan apabila suami merujuknya, menurut pendapat mazhab. Sebab, rujuk tidak menghilangkan pengaruh talak.”

Hukuman had tidak diberlakukan karena adanya syubhat, sebab sebagian fuqaha berpendapat bahwa menyetubuhi istri yang ditalak raj‘i hukumnya boleh. Pendapat ini merupakan mazhab Imam Ahmad.

Dalam kitab Muntaha al-Iradat beserta Hasyiyah al-Khalwati (5/273) disebutkan:

(وله السفر بها - أي: الرجعية - والخلوة بها، ووطؤها، وتحصل به رجعتها، ولو لم ينوها لا بمباشرة) انتهى

“Suami boleh bepergian bersamanya—yakni istri yang ditalak raj‘i—berduaan dengannya, dan menyetubuhinya. Dengan hubungan badan tersebut, rujuk telah terjadi, meskipun suami tidak meniatkannya. Namun, rujuk tidak terjadi hanya dengan bermesraan tanpa hubungan badan.”

Mazhab Maliki dalam masalah ini sama dengan mazhab Syafi‘i.

Adapun mazhab Hanafi sama dengan mazhab Hanbali.

Wallahu a‘lam.

Referensi

Teks asli:

[حكم الاستمتاع بالرجعية]

مذهبُ الشافعية أنه:

- يحرم الاستمتاع من الزوج بالرجعية أثناء عدتها، ولو بالنظر.

- وإذا وطئها ١- أَثِمَ، ٢- وعُزّر إن كان يعتقد تحريمه، بخلاف الجاهل وغير معتقد التحريم، و٣- يلزمه لها مهر المثل سواء راجعها أم لا.

قال الديباج شرح المنهاج (٣/٤٨٥): (ويحرم الاستمتاع بها، أي: الرجعية ولو بمجرد النظر؛ لأنّ النكاح يبيحه فيحرّمُه الطلاق؛ لأنه ضده، فإن وطئ فلا حدَّ، وإن اعتقد حرمته؛ لشهرة الخلاف في إباحته، وحصول الرجعة به عند بعض العلماء، ولا يعزر إلا معتقد تحريمه دون معتقد حله والجاهل بتحريمه حيث عُذِرَ؛ وذلك لإقدامه على معصية عنده .. ويجب لها عليه بوطئه مهر مثل إن لم يراجع للشبهة، ولا يتكرر بتكرر الوطء؛ لاتحاد الشبهة، وكذا يجب لها إن راجع على المذهب؛ لأن الرجعة لا ترفع أثر الطلاق) انتهى.

ولا يترتب الحد؛ للشبهة؛ إذ ذهب بعض الفقهاء إلى جواز وطءِ الرجعية - كما هو مذهب أحمد - ففي منتهى الإرادات مع حاشية الخلوتي (٥/٢٧٣): (وله السفر بها - أي: الرجعية - والخلوة بها، ووطؤها، وتحصل به رجعتها، ولو لم ينوها لا بمباشرة) انتهى

ومذهب المالكية كالشافعية.

ومذهب الحنفية كالحنابلة.

والله أعلم

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Tinggalkan Komentar

Rekomendasi

Iklan