Thaharah

Hukum Air Sedikit Yang Terkena Najis

Pertanyaan:

Apa hukum air sedikit yang terkena najis?

Jawaban:

Menurut pendapat muktamad dalam mazhab Syafi'i, air yang kurang dari dua kulah (191,25 L) menjadi mutanajjis apabila terkena najis, meskipun tidak mengalami perubahan warna, rasa, maupun bau.

Namun, terdapat pendapat lain yang menyatakan bahwa air, baik sedikit maupun banyak, tidak menjadi mutanajjis selama tidak mengalami perubahan akibat najis.

Pendapat kedua ini merupakan pendapat sejumlah ulama salaf dan beberapa imam mujtahid, di antaranya Imam Malik. Pendapat ini juga merupakan ikhtiyar sebagian ulama Syafi'iyyah, seperti Imam Ibnu al-Mundzir, Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin dan Imam ar-Ruyani dalam al-Bahr serta al-Hilyah.

Bahkan, Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' menyebutkan bahwa pendapat ini merupakan pendapat yang paling sahih setelah pendapat mazhab Syafi'i.

Beliau berkata:

لا ينجُس كثيرُ الماء ولا قليلُه إلا بالتغير، حَكوْهُ عن ابن عباس وابن المسيب والحسن البصري وعكرمة وسعيد بن جبير وعطاء وعبد الرحمن ابن أبي ليلى وجابر بن زيد ويحيى بن سعيد القطان وعبد الرحمن بن مهدي، قال أصحابنا: وهو مذهب مالك والأوزاعي وسفيان الثوري وداود، ونقلوه عن أبي هريرة والنخعي، قال ابن المنذر:  وبهذا المذهب أقول، واختاره الغزالي في الإحياءـ، واختاره الروياني في كتابيه البحر والحلية، قال في البحر: هو اختياري واختيارُ جماعةٍ رأيتُهم بخراسان والعراق، وهذا المذهب أصحها بعد مذهبنا. اهـ (المجموع شرح المهذب)

"Air, baik dalam jumlah banyak maupun sedikit, tidak menjadi najis kecuali apabila mengalami perubahan (akibat najis).

Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas, Ibnu al-Musayyib, al-Hasan al-Bashri, Ikrimah, Sa'id bin Jubair, Atha', Abdurrahman bin Abi Laila, Jabir bin Zaid, Yahya bin Sa'id al-Qaththan, dan Abdurrahman bin Mahdi.

Para ulama mazhab kami (Syafi'iyyah) mengatakan bahwa pendapat ini merupakan mazhab Imam Malik, al-Auza'i, Sufyan ats-Tsauri, dan Dawud. Mereka juga menukil pendapat tersebut dari Abu Hurairah dan an-Nakha'i.

Ibnu al-Mundzir berkata, "Inilah pendapat yang aku pilih."

Pendapat ini juga dipilih oleh Imam al-Ghazali dalam kitab al-Ihya' dan Imam ar-Ruyani dalam kedua kitabnya, al-Bahr dan al-Hilyah.

Imam ar-Ruyani berkata dalam al-Bahr, "Inilah pendapat pilihanku dan pilihan sejumlah ulama yang aku jumpai di Khurasan dan Irak."

Pendapat ini merupakan pendapat yang paling sahih setelah pendapat mazhab kami (Syafi'iyyah)."

Dengan demikian, pendapat bahwa air tidak menjadi najis kecuali apabila mengalami perubahan merupakan pendapat yang mu'tabar dalam khilaf ulama, meskipun bukan pendapat muktamad dalam mazhab Syafi'i.

Faqih Ubaidillah, Lc, Dipl.
Faqih Ubaidillah, Lc, Dipl.

Spesialis Fiqih dan Ushul Fiqih, alumni Al-Azhar Kairo.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Tinggalkan Komentar

Rekomendasi

Iklan